Pages

Monday, November 24, 2014

Bertemu Bolang




It's Bolang! He's Fckin real man!!!!!!!! Oh iya bolang mah dari dulu juga nyata yang ga nyata mah unyil, maaf.

         Saya sudah 5 tahun tinggal di kota bandung, dimulai tahun 2010. Ya, tahun 2010 bertepatan dengan pasar seni ITB tapi berhubung saat itu saya tidak beda jauh dengan “Kabayan saba kota” jadi ya sudah acara itu lewat begitu saja. Tapi sekarang setelah 4 tahun berselang acara tersebut kembali diadakan dan saya pun berkesempatan untuk datang dan lumayan menikmati walaupun efeknya lumayan buat kaki.
      Saya akui animo masyarakat terhadap acara ini begitu luar biasa. Mengapa saya dapat berpendapat demikian, pertama karena rute angkot yang saya tumpangi hanya bisa sampai Jl. Siliwangi karena macet. Kedua, Sholat dhuhur di mesjid salman saja harus mengantri, belum lagi ada yang namanya joki tuang. Joki tuang hadir di tengah-tengah keramaian sebagai solusi praktis karena mau wudhu pun ngantri jadi bagi mereka yang tergesa dapat menggunakan air bersih dalam kemasan botol air mineral dan tentunya dengan bantuan joki tuang.
          Terima kasih joki tuang.

Thursday, November 20, 2014

Televisi Meong-Meong



        
Acara vaporit ane (sumber :http://blogdetik.com/2014/01/10/laptop-si-unyil-keluarga-baru-blogdetik/)
        Sekedar informasi bahwa fase kuliah paling kacau adalah di tahun akhir ketika semua mata kuliah sudah selesai TAPI skripsi tak kunjung usai. Ditambah kelainan yang saya alami sejak lahir yaitu Pseudo-Jetlag. Kelainan ini membuat kita seolah-olah merasakan jetlag walaupun berada pada zona waktu yang sama sejak lahir. Efeknya waktu tidur berubah jadi dini hari dan bangun pada siang hari. Namun kelainan ini masih kurang dikaji lebih spesifik lagi sehingga masyarakat lebih senang menggunakan kata “doyan bagadang”. Pada postingan sebelumnya saya meracau sotoy mengenai pemahaman yang matang untuk dapat menikmati alur dan plot twist pada serial digimon tamers. Nah, akibat dari Pseudo-Jetlag itu maka jam menonton televisi saya sedikit bergeser ke acara larut malam.
         Entah kenapa namun sejak kecil ketika Pseudo-Jetlag saya belum sering kambuh, pola pikir saya selalu mengatakan bahwa acara jam malam itu acaranya orang dewasa. Tapi sekarang setelah masuk kategori dewasa (diatas 18 tahun) ternyata fantasi saya sewaktu kecil tidak terwujud karena siaran malam saat ini lebih senang untuk bekerja sama dengan bangsa jin karena hampir tiap hari pukul 00.00 lewat sedikit, ada saja yang tiba-tiba kesurupan.
      Tapi hadirnya televisi di jam malam menurut saya pribadi turut serta dalam mensukseskan program pemerintah melalui BKKBN yaitu program KB “Dua anak cukup” “Dua istri bangkrut”. Apa kaitannya? Sebelum itu agar lebih mudah dimengerti maka saya mengasosiasikan jaman dulu dengan kondisi ketika televisi dan siaran jam malam belum secara nasional dan jaman sekarang dengan kondisi ketika televisi dan siaran jam malam telah ada secara nasional.

Wednesday, November 19, 2014

Setelah 12 tahun berlalu



         Setelah kemarin dalam postingan ini saya menggalau tentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kaitannya dengan perceraian rumah tangga tuan mie dan nyonya telor. Tenang, mereka bercerai bukan karena ada orang ketiga apalagi gara-gara engkong naim yang katanya bisa bertelor. Saya menaruh curiga kalau butiran itu sebenarnya bukan telor melainkan kotoran mampet yang mengkristal, kebayangkan bagaimana kerang bisa menghasilkan mutiara? Nah mungkin di usus beliau ada slot untuk kotoran mampet kelas porselen.
       Sekarang setelah hampir lulus kuliah, saya mendapat "kabar gembira untuk kita semua" mengenai rencana serial lanjutan dari digimon adventure. Kira-kira April 2015 akan rilis kelanjutan kisah Taichi dan agumon, kali ini para Erabareshi Kodomotachi – The Choosen Children – DigiDestined memasuki usia SMA. Nah berhubung film tersebut dalam rangka merayakan perayaan 15 tahun sejak awal rilis digimon adventure di Odaiba sana.

(Sumber : http://9gag.com/gag/aDwnRQG)

Tuesday, November 18, 2014

Dampak nyata kenaikan BBM




Dalam rangka menanggapi isu perubahan harga bahan bakar minyak (BBM). Berikut ini adalah kajian isu sotoy komprehensif yang saya rangkum berdasarkan pengalaman sehari-hari, termasuk beberapa diantaranya merupakan hasil pengamatan.
17 November 2014 pemerintah menetapkan harga jual eceran BBM menjadi Rp. 8.500,- atau terjadi kenaikan harga sebesar Rp. 2.000,- atau lagi terjadi pengurangan subsidi sebesar Rp. 2.000,-. Dalam kasus ini saya mengetahui kabar perubahan harga BBM melalui pembaruan baru di BBM. Seperti halnya dengan pengalaman yang lalu tentang perubahan harga BBM, beberapa dampak mengerikan dan alasan yang sering banget dijadikan dalih yaitu perubahan harga BBM memicu efek domino terhadap harga sembilan bahan pokok (Sembako). Beragam pro dan kontra bermunculan dengan kalimat pembenaran sesuai dengan versi yang mereka yakini.
Argumen yang kontra dalam kacamata saya yaitu perubahan harga BBM akan membebani warga negara (saya bosan menggunakan kata ‘rakyat’, soalnya ini sudah jadi bahan jualannya anggota dewan) yang penghasilannya kurang atau bahkan tidak memiliki penghasilan per bulan sama sekali. Hal ini mudah dipahami karena daya beli mereka akan berkurang seiring perubahan harga sembako. Tetapi saya meragukan argumen ini karena jika terapkan kondisi sebaliknya seandainya harga BBM gratis apakah persentase golongan ini pun akan menjadi nol.
Argumen yang pro dengan kenaikan harga BBM menyataan bahwa subsidi BBM tidak tepat sasaran. Mereka menggunakan perumpamaan seorang pegawai swasta yang sehari-sehari menggunakan kendaraan roda empat. Untuk pemakaian wajar rumah – kantor pulang pergi, mereka bisa menikmati dana subsidi hingga kira-kira sotoy 500 ribu rupiah per bulan. Apalagi jika digunakan untuk pemakaian tidak wajar rumah – kantor – istri muda – rumah mungkin bisa membengkak menjadi lebih sotoy 2 - 4 juta rupiah per bulan (1 juta bahan bakar minyak sisanya buat bahan bakar biar di-gas istri muda). Selain itu kebanyakan dari mereka yang menyatakan protes secara langsung (ketika sesi wawancara on the street) ialah orang-orang yang membawa kendaraan macam nisan juki, kendaraan APV lainnya atau mobil yang di klaim produsen sebagai mobil murah, ramah dan tamah lingkungan (padahal hanya dibuat ulang agar kompatibel minum premium). Ini kan sama saja seperti bawa Satria FU tapi ngotot minumnya premium dengan kata lain ingin gaya tapi disubsidi.
Argumen pro yang tadi pun masih saya ragukan karena solusi dari pemerintah memberikan ‘uang kaget’ kepada warga negara yang tergolong tidak mampu. Sesuai ajaran Ayahanda yang sampai sekarang saya pegang, solusi seperti ini (penilaian subjektif) sebenarnya tidak sepenuhnya benar karena tidak mandiri dan menimbulkan sifat ketergantungan.
Mode sotoy : dinyalakan
MEMUAT HALAMAN
(LOADING)