 |
| It's Bolang! He's Fckin real man!!!!!!!! Oh iya bolang mah dari dulu juga nyata yang ga nyata mah unyil, maaf. |
Saya sudah 5 tahun tinggal di
kota bandung, dimulai tahun 2010. Ya, tahun 2010 bertepatan dengan pasar seni
ITB tapi berhubung saat itu saya tidak beda jauh dengan “Kabayan saba kota”
jadi ya sudah acara itu lewat begitu saja. Tapi sekarang setelah 4 tahun
berselang acara tersebut kembali diadakan dan saya pun berkesempatan untuk
datang dan lumayan menikmati walaupun efeknya lumayan buat kaki.
Saya akui animo masyarakat
terhadap acara ini begitu luar biasa. Mengapa saya dapat berpendapat demikian,
pertama karena rute angkot yang saya tumpangi hanya bisa sampai Jl. Siliwangi
karena macet. Kedua, Sholat dhuhur di mesjid salman saja harus mengantri, belum
lagi ada yang namanya joki tuang. Joki tuang hadir di tengah-tengah keramaian
sebagai solusi praktis karena mau wudhu pun ngantri jadi bagi mereka yang
tergesa dapat menggunakan air bersih dalam kemasan botol air mineral dan
tentunya dengan bantuan joki tuang.
Terima kasih joki tuang.
Ketiga dalam acara tersebut
terdapat beberapa galeri seni yang bisa dikunjungi tapi dengan animo masyarakat
yang luar biasa maka tiap galeri pun selalu dihiasi oleh antrian yang tidak
hanya panjang dan padat tapi sampai mengitari gedung lokasi tiap galeri. Untuk
tahun ini saya tidak berkesempatan untuk mengunjungi satu pun galeri seni
tersebut karena apa lagi kalau bukan malas mengantri. Bukan karena saya tidak
taat antrian hanya saja saya lebih baik tidak ikut mengantri jika antriannya padat
sesak seperti itu ini modusnya. Alasan sebenarnya antrian yang padat
sesak itu rawan sekuhara, pada beberapa kasus sekuhara yang melibatkan pelaku
yang lihai biasanya tertuduh pertama adalah orang dengan senyuman mesum, dan
saya termasuk orang yang memiliki peluang tinggi sebagai tertuduh walaupun
tidak melakukan apa pun kalau niat mungkin ada.
 |
| Katanya si tentang menunjukan sikap individualis seseorang ditengah kerumunan orang |
 |
| Awalnya saya kira ini serpihan megatron sebelum dia jadi galvatron |
Nah hal menarik yang saya rasakan
dalam event tersebut adalah fakta bahwa saya dengan mudah menerima seni
instalasi yang disajikan disana seperti tangan robot dan orang autis dalam
kerangka berbentuk bola atau T-rex dari seng berkarat. Pertama melihat pun yang
langsung terpikir oleh saya adalah berapa lama, berapa banyak kru dan berapa
biaya yang dihabiskan oleh panitia acara untuk membuat benda tersebut dan hal
itu lah yang mengharuskan saya untuk memberikan apresiasi.
Sayangnya ada saja pengujung yang
tidak menghargai usaha si pembuat yang justru menjadikan salah satu kriya bambu
yang dipajang untuk umum sabagai tempat sampah. Saya selalu meyakini bahwa
mereka ini golongan orang yang sok bersih tapi dangkal no offense. Hal
yang membuat saya sedikit malas dengan acara tersebut bukan karena perilaku
panitia melainkan perilaku pengunjung lainnya terkait sampah. Mental sebagian
orang masih berpendapat bahwa buang saja sampahnya toh ada tukang sampah yang
membersihkan, apa yang membedakan perilaku demikian yang menganggap bahwa boker
saja di teras rumah orang nanti juga dibersihkan yang punya rumah. Ditambah
saya menemukan beberapa kantung plastik sampah yang belum terisi penuh tapi
pengunjung malah membuang sampah sembarangan. Sepertinya 200 tahun pun akan
tetap demikian sebelum ada kejadian luar biasa mengenai sampah.
 |
| Apapun alasannya hal seperti ini pasti menyakiti hati si pembuat |
 |
| Si Kampret doyan juga jajan beginian sampe ludes, tapi kok ya males buang sampah di kantong sampah padahal ada tepat di sebelahnya |
Tapi memang benar kata beberapa
teman tentang kemampuan saya dalam mengambl hikmah atau manfaat dalam setiap
kemalangan misal ketika menjemur pakaian di kosan saya termasuk yang selalu
telet mencuci sehingga selalu kebagian bagian barat jemuran yang jarang terkena
sinar matahari dan teman saya pun pasti langsung mengata-ngatai bahwa pakaian
saya akan kering paling akhir. Tenang, ini bukan masalah karena ini adalah
keuntungan seandainya matahari pagi terbit dari barat maka tentu pakaian saya
yang kering duluan shame on you lad!. Sama halnya dengan kejadian sampah
ini justru saya syukuri karena orang masih membuang sampah sembarangan di muka
umum sehingga situasi masih aman dan tidak terjadi kerusuhan atau minimal tidak
terjadi pertengkaran, bayangkan kalau orang mulai muak buang sampah sembarangan
dan mulai membuang sampah dimuka orang.
Berikut beberapa gambar yag saya ambil ketika berada di event pasar seni.
 |
| Ini kayanya si anjing tapi berhubung ini ada di galeri yang udah terkenal jadi saya ga berani mengatai lebih lanjut. |
 |
| Liat yang beginian jadi inget masa-masa bikin tandu pramuka buat ngangkut orang yang pingsan pas upacara bendera |
 |
| Awalnya saya kira dari kardus eh ga taunya dari seng berkarat, kebayang kalo ini t-rex hidup sekali gigit orang langsung kena tetanus. |
 |
| Ini salah satu dekorasi acaranya |
 |
| Kalau yang ini murni akibat kemacetan sepanjang jalan gelap nyawang, nah terus pekerja galian kabel yang terganggun pekerjaannya akibat macet memutuskan untuk melampiaskan jiwa seninya pada tanah liat galian kabel, cukup menginspirasi. |
 |
| Kalau yang ini entah maksudnya apa |
Itu abang yang megang botol Vit sekilas kayak Kevin Aprilio KW.
ReplyDeletemantap bolang
ReplyDelete