![]() | ||
| Acara vaporit ane (sumber :http://blogdetik.com/2014/01/10/laptop-si-unyil-keluarga-baru-blogdetik/) |
Sekedar informasi bahwa fase
kuliah paling kacau adalah di tahun akhir ketika semua mata kuliah sudah
selesai TAPI skripsi tak kunjung usai. Ditambah kelainan yang saya alami sejak
lahir yaitu Pseudo-Jetlag. Kelainan
ini membuat kita seolah-olah merasakan jetlag walaupun berada pada zona waktu
yang sama sejak lahir. Efeknya waktu tidur berubah jadi dini hari dan bangun
pada siang hari. Namun kelainan ini masih kurang dikaji lebih spesifik lagi
sehingga masyarakat lebih senang menggunakan kata “doyan bagadang”. Pada
postingan sebelumnya saya meracau sotoy mengenai pemahaman yang matang
untuk dapat menikmati alur dan plot twist pada serial digimon tamers. Nah,
akibat dari Pseudo-Jetlag itu maka jam menonton televisi saya sedikit bergeser
ke acara larut malam.
Entah kenapa namun sejak kecil
ketika Pseudo-Jetlag saya belum sering kambuh, pola pikir saya selalu
mengatakan bahwa acara jam malam itu acaranya orang dewasa. Tapi sekarang setelah
masuk kategori dewasa (diatas 18 tahun) ternyata fantasi saya sewaktu kecil
tidak terwujud karena siaran malam saat ini lebih senang untuk bekerja sama
dengan bangsa jin karena hampir tiap hari pukul 00.00 lewat sedikit, ada saja
yang tiba-tiba kesurupan.
Tapi hadirnya televisi di jam
malam menurut saya pribadi turut serta dalam mensukseskan program pemerintah
melalui BKKBN yaitu program KB “Dua anak
cukup” “Dua istri bangkrut”. Apa kaitannya? Sebelum itu agar lebih
mudah dimengerti maka saya mengasosiasikan jaman
dulu dengan kondisi ketika televisi dan siaran jam malam belum secara
nasional dan jaman sekarang dengan
kondisi ketika televisi dan siaran jam malam telah ada secara nasional.
Sekarang mari kita kaji bahwa
orang-orang jaman dulu biasanya punya anak banyak dan orang jaman sekarang
punya anak sedikit. Lalu apa kaitan antara siaran televisi pada jam malam
dengan jumlah anak? Perlu kita ketahui bahwa hiburan merupakan kebutuhan dasar
manusia sehingga apapun jamannya maka manusia akan selalu mencari cara untuk
menghibur diri. Nah, kaitannya adalah jaman sekarang siaran malam cukup menjadi
hiburan bagi sebagian orang artinya jika terbangun tengah malam dan bosan maka orang
tersebut akan langsung menyalakan televisi dan kesurupan. Bayangkan
ketika jaman dulu orang terbangun tengah malam dan belum ada siaran jam malam,
tentu yang akan ia lakukan adalah mencari hiburan untuk menghibur diri apapun
itu. Hasilnya orang jaman dulu punya anak banyak karena kurangnya opsi hiburan
dan menghibur diri.
Untuk lebih paham dampak dari
siaran televisi terhadap orang-orang jaman dulu akan saya perkenalkan tetangga
rumah saya sebut saja nyonya mamih dan keluarganya. nyonya mamih termasuk orang jaman dulu. Beliau-beliau ini gemar
menyalakan televisi dengan suara yang bisa menyaingi pengeras suara mushola.
Dampaknya kuping saya saat ini berubah menjadi sedikit aneh. Dengan pendengaran
yang kurang tajam ditambah tingkat keanehan anak muda yang sering memunculkan kosakata
atau singkatan yang aneh pula hasilnya setiap ada orang yang mengucapkan kata P.H.P. maka yang sampai di telinga saya
yaitu B.A.B. Sekedar informasi saya
ini sewaktu SMP dan SMA dikenal dengan si wajah mesum, karena selalu
mengeluarkan ekspresi mesum ketika ada teman yang nyeletuk mesum. Sebenarnya saya tidak mesum, hanya saja saya orang
yang secara seketika selalu membayangkan apapun perkataan orang apalagi
bentuknya celetukan. Nah, dengan
adanya kelainan P.H.P. menjadi B.A.B., bisa kalian bayangkan sendiri suatu waktu di
sekitaran kampus saya mencuri dengar percakapan dua mahasiswi.
Mahasiswi satu menyatakan bahwa ia selalu di B.A.B.-in kekasihnya, hujan-hujan, di tempat makan.
Mahasiswa dua menyatakan bahwa pria yang PDKT ke dia belakangan pria-pria berwajah tidak layak sehingga ia selalu B.A.B-in setiap pria yang PDKT dengan modal tampang seadanya.
![]() |
| Coba kalo siaran tengah malem isinya yang begini kan mantep (sumber : http://hraotrunycz.funsite.cz/) |
Masih berkaitan dengan televisi,
saya perhatikan sebenarnya dari sekian banyak kanal siaran televisi
sesungguh-sungguhnya acara sama atau itu-itu
aja. Dulu semua acara ada ritual joget panasnya sekarang semua acara selalu
disisipkan isu kehidupan pribadi si pembawa acara. Pernah ingat berapa tepatnya
judul sinetron yang pernah menggunakan adegan suci kamera close up – zoom in – zoom out 1000 kali? Atau penggunaan
efek berlebihan semisal aungan serigala gogog setiap kali si tokoh
selesai bicara 1 kalimat? Streotype semacam ini seolah mematikan ruang bagi
inovasi karena dimanjakan oleh rating siaran yang mengundang banyak iklan. Hal
ini bahkan membuat seorang teman saya sejak masih kuliah bercita-cita menjadi penulis
skenario sinetron dalam rangka merevolusi melalui inovasi, semoga berhasil nak
saya pun muak dengan sinetron saat ini apalagi judulnya mirip-mirip seperti ganteng-ganteng seringgila, cakep-cakep
sakit, jagoan-jagoan neon-politan.
Sebenarnya saya ingin mengekploitasi
kisah dua orang mahasiswi yang punya kelainan dengan B.A.B. tapi takutnya nanti tulisan ini jadi semacam artikel di
sukatorodotcom. Selanjutnya mengutip dari salah seorang penulis inggris, John O' Farrell yang berkata melalui bukunya Global Idiot Village (saya
baca di reading lights waktu itu). Beliau menyatakan bahwa ada kalanya kita
akan mematikan televisi ketika dengan waktu menonton yang sebentar dan terdapat
200 kanal siaran televisi yang berbeda namun isinya kurang lebih sama, bodoh.
![]() |
| Bukunya bagus, serius. (sumber : http://www.amazon.co.uk/Global-Village-Idiot-John-OFarrell/dp/0552999644) |
Terima kasih.
Mukhamad Ryan.
Too long post? Here i give you this



No comments:
Post a Comment