Pages

Thursday, November 20, 2014

Televisi Meong-Meong



        
Acara vaporit ane (sumber :http://blogdetik.com/2014/01/10/laptop-si-unyil-keluarga-baru-blogdetik/)
        Sekedar informasi bahwa fase kuliah paling kacau adalah di tahun akhir ketika semua mata kuliah sudah selesai TAPI skripsi tak kunjung usai. Ditambah kelainan yang saya alami sejak lahir yaitu Pseudo-Jetlag. Kelainan ini membuat kita seolah-olah merasakan jetlag walaupun berada pada zona waktu yang sama sejak lahir. Efeknya waktu tidur berubah jadi dini hari dan bangun pada siang hari. Namun kelainan ini masih kurang dikaji lebih spesifik lagi sehingga masyarakat lebih senang menggunakan kata “doyan bagadang”. Pada postingan sebelumnya saya meracau sotoy mengenai pemahaman yang matang untuk dapat menikmati alur dan plot twist pada serial digimon tamers. Nah, akibat dari Pseudo-Jetlag itu maka jam menonton televisi saya sedikit bergeser ke acara larut malam.
         Entah kenapa namun sejak kecil ketika Pseudo-Jetlag saya belum sering kambuh, pola pikir saya selalu mengatakan bahwa acara jam malam itu acaranya orang dewasa. Tapi sekarang setelah masuk kategori dewasa (diatas 18 tahun) ternyata fantasi saya sewaktu kecil tidak terwujud karena siaran malam saat ini lebih senang untuk bekerja sama dengan bangsa jin karena hampir tiap hari pukul 00.00 lewat sedikit, ada saja yang tiba-tiba kesurupan.
      Tapi hadirnya televisi di jam malam menurut saya pribadi turut serta dalam mensukseskan program pemerintah melalui BKKBN yaitu program KB “Dua anak cukup” “Dua istri bangkrut”. Apa kaitannya? Sebelum itu agar lebih mudah dimengerti maka saya mengasosiasikan jaman dulu dengan kondisi ketika televisi dan siaran jam malam belum secara nasional dan jaman sekarang dengan kondisi ketika televisi dan siaran jam malam telah ada secara nasional.

       Sekarang mari kita kaji bahwa orang-orang jaman dulu biasanya punya anak banyak dan orang jaman sekarang punya anak sedikit. Lalu apa kaitan antara siaran televisi pada jam malam dengan jumlah anak? Perlu kita ketahui bahwa hiburan merupakan kebutuhan dasar manusia sehingga apapun jamannya maka manusia akan selalu mencari cara untuk menghibur diri. Nah, kaitannya adalah jaman sekarang siaran malam cukup menjadi hiburan bagi sebagian orang artinya jika terbangun tengah malam dan bosan maka orang tersebut akan langsung menyalakan televisi dan kesurupan. Bayangkan ketika jaman dulu orang terbangun tengah malam dan belum ada siaran jam malam, tentu yang akan ia lakukan adalah mencari hiburan untuk menghibur diri apapun itu. Hasilnya orang jaman dulu punya anak banyak karena kurangnya opsi hiburan dan menghibur diri.
      Untuk lebih paham dampak dari siaran televisi terhadap orang-orang jaman dulu akan saya perkenalkan tetangga rumah saya sebut saja nyonya mamih dan keluarganya. nyonya mamih termasuk orang jaman dulu. Beliau-beliau ini gemar menyalakan televisi dengan suara yang bisa menyaingi pengeras suara mushola. Dampaknya kuping saya saat ini berubah menjadi sedikit aneh. Dengan pendengaran yang kurang tajam ditambah tingkat keanehan anak muda yang sering memunculkan kosakata atau singkatan yang aneh pula hasilnya setiap ada orang yang mengucapkan kata P.H.P. maka yang sampai di telinga saya yaitu B.A.B. Sekedar informasi saya ini sewaktu SMP dan SMA dikenal dengan si wajah mesum, karena selalu mengeluarkan ekspresi mesum ketika ada teman yang nyeletuk mesum. Sebenarnya saya tidak mesum, hanya saja saya orang yang secara seketika selalu membayangkan apapun perkataan orang apalagi bentuknya celetukan. Nah, dengan adanya kelainan P.H.P. menjadi B.A.B.,  bisa kalian bayangkan sendiri suatu waktu di sekitaran kampus saya mencuri dengar percakapan dua mahasiswi.

Mahasiswi satu menyatakan bahwa ia selalu di B.A.B.-in kekasihnya, hujan-hujan, di tempat makan.

Mahasiswa dua menyatakan bahwa pria yang PDKT ke dia belakangan pria-pria berwajah tidak layak sehingga ia selalu B.A.B-in setiap pria yang PDKT dengan modal tampang seadanya.

        
Coba kalo siaran tengah malem isinya yang begini kan mantep (sumber : http://hraotrunycz.funsite.cz/)
        Masih berkaitan dengan televisi, saya perhatikan sebenarnya dari sekian banyak kanal siaran televisi sesungguh-sungguhnya acara sama atau itu-itu aja. Dulu semua acara ada ritual joget panasnya sekarang semua acara selalu disisipkan isu kehidupan pribadi si pembawa acara. Pernah ingat berapa tepatnya judul sinetron yang pernah menggunakan adegan suci kamera close up – zoom in – zoom out 1000 kali? Atau penggunaan efek berlebihan semisal aungan serigala gogog setiap kali si tokoh selesai bicara 1 kalimat? Streotype semacam ini seolah mematikan ruang bagi inovasi karena dimanjakan oleh rating siaran yang mengundang banyak iklan. Hal ini bahkan membuat seorang teman saya sejak masih kuliah bercita-cita menjadi penulis skenario sinetron dalam rangka merevolusi melalui inovasi, semoga berhasil nak saya pun muak dengan sinetron saat ini apalagi judulnya mirip-mirip seperti ganteng-ganteng seringgila, cakep-cakep sakit, jagoan-jagoan neon-politan.
      Sebenarnya saya ingin mengekploitasi kisah dua orang mahasiswi yang punya kelainan dengan B.A.B. tapi takutnya nanti tulisan ini jadi semacam artikel di sukatorodotcom. Selanjutnya mengutip dari salah seorang penulis inggris, John O' Farrell yang berkata melalui bukunya Global Idiot Village (saya baca di reading lights waktu itu). Beliau menyatakan bahwa ada kalanya kita akan mematikan televisi ketika dengan waktu menonton yang sebentar dan terdapat 200 kanal siaran televisi yang berbeda namun isinya kurang lebih sama, bodoh.
Bukunya bagus, serius. (sumber : http://www.amazon.co.uk/Global-Village-Idiot-John-OFarrell/dp/0552999644)

Terima kasih.
Mukhamad Ryan.

Too long post? Here i give you this


No comments:

Post a Comment

MEMUAT HALAMAN
(LOADING)