Pages

Friday, April 11, 2014

Tidak berbakat dan Tidak berminat

Seberapa jauh minat seseorang terhadap buku, atau minat baca seseorang dapat tercermin sikap orang tersebut. Ambil contoh dalam sebuah obrolan di malam hari yang biasa-biasa saja. Ketika itu kami sedang terlibat dalam sebuah perbincangan yang menurut saya tidak terlalu bermanfaat untuk dibicarakan. Tema perbincangan kami adalah bagaimana manusia dapat bertahan hidup, awalnya obrolan terdengar ilmiah dengan berlandaskan teori darwin, kemudian berlanjut ke missing link sampai ujung perbincangannya adalah bagaimana cara sapi kawin.

 Apa urusannya dengan sapi? Dan kenapa harus sapi kawin? Oke, obrolan kami melenceng karena saat itu terlintas dalam pikiran saya mengenai tayangan yang menampilkan proses inseminasi buatan pada peternakan sapi. Dan si presenter dengan sukarela menjadi petugas yang mengumpulkan sperma dari sapi jantan. Si presenter menjalankan tugasnya dengan memasuki sebuah benda yang terbuat dari logam entah baja atau hanya besi, namun benda tersebut dibuat menyeruapi sapi betina. Singkat cerita setelah beberapa menit berada dalam ruangan yang berguncang hebat dan seolah akan ambruk akibat ulah si sapi jantan, si presenter berhasil menjalankan tugasnya dengan benar dan proses inseminasi buatan pun dilakukan dengan menyuntikan sperma tersebut ke sapi betina.

Saya pikir hanya berdasarkan cerita yang saya paparkan mereka akan percaya, nyatanya tidak ada satu pun dari mereka yang percaya. Sehingga semalaman kami menjelajah youtube untuk mencari video yang saya sebutkan sebelumnya. Pada pagi harinya ketika kami berkumpul lagi diruang tengah, hasil temuan kami tidak mengecewakan walaupun video inseminasi buatan pada sapi tidak ditemukan tapi kami jadi mengetahui bagaimana beruang, gorila, jerapah dan unta bereproduksi. Bisa anda simpulkan sendiri apakah saya termasuk orang yang gemar membaca atau tidak, silahkan simpulkan jika berkenan.



NB : Selama berkeliaran di perpustakaan tempat saya praktek mengajar saya telah membaca buku yang kebanyakan novel seperti The Last Symbol karya Dan Brown, Tokyo Zodiac Murderer karya Soji Shimada, Mereka Yang dilumpuhkan karya Pramoedya Ananta Toer. Dan ini menarik karena saya baru mengalami perpustakaan sekolah menengah pertama yang menyediakan buku fiksi yang cukup banyak.

Monday, April 7, 2014

IBC

Hitam manis pahit

Sejatinya kopi itu pahit, semua tergantung bagaimana kita mewarnai kopi. Dan saya termasuk yang tidak ingin mewarnai rasa pahit kopi yang murni dengan aksesoris apapun. Hal yang kadang membuat saya senyum-senyum sendiri itu terkadang adalah hal yang remeh, bukan urusan besar bagi sebagian orang dan hal itu adalah kopi. Kopi pahit entah dari toraja atau sumatera. Pertama, dari kopi saya belajar mengenai ironi. Saya katakan ironi karena dalam setiap tegukan kopi pahit, saya dapat menemukan sebuah kenikmatan yang khas. Bagaimana mungkin menemukan kenikmatan dari kepahitan, jelas mungkin dan buktinya adalah kopi. Kedua, dari pahitnya kopi yang khas membuat saya bisa merasakan kehadiran gula walaupun sedikit, ingatan kopi pahit yang membekas mampu membedakan kopi dan gula sekalipun telah tercampur.

Perkenalan saya dan kopi belum genap satu tahun, yang jelas setelah perkenalan itu lidah saya seperti seorang prajurit yang baru saja naik derajat menjadi ksatria. Lidah saya menolak kopi kemasan. Tidak ada lagi kenikmatan yang terasa dari kopi kemasan kecuali panasnya air yang cocok sebagai penangkal angin malam. Sempat terlintas pikiran mengenai bagaimana kalau nanti lambung saya tidak kuat dan semacamnya. Untungnya saya dapat info mengenai kebiasaan kedai kopi di luar negeri yang selalu menghidangkan air putih satu gelas kecil sebelum kopi dihidangkan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika lambung dalam keadaan kosong maka air putih akan mengisinya terlebih dahulu sebelum kopi masuk. Saya cukup yakin dengan cara ini efek jahat kopi terhadap lambung bisa diatasi. Kabar baik yang saya terima melalui pesan singkat sore tadi yaitu tahun ini bandung menjadi salah satu kota yang kedatangan Indonesian Barista Competition (IBC), ya IBC adalah ajang dimana saya berharap bisa mencicipi kopi racikan tangan-tangan yang diakui oleh dunia. Semoga tidak mahal.


NB : Saya masih bingung tentang aturan pileg dilaksanakan 9 April apakah sifatnya baku diatur dalam UU atau mengikuti primbon.

Saturday, April 5, 2014

Sherwood Out

Tulisan ini saya buat dengan serampangan dan hanya didukung oleh opini pribadi

5 – 0

5 – 1

6 – 0

3 – 0
        Jangan berpikir aneh dulu, angka-angka tersebut bukan indeks pacuan kuda. Jika kalian mengikuti perkembangan liga inggris musim 2013/2014 angka tersebut adalah skor akhir pertandingan antara spurs melawan tim-tim besar di liga inggris (tim besar yang menang). Menyedihkan memang, mengecewakan jelas iya tapi jika ditanya itu adalah angka yang memalukan maka bagi saya yang jadi fans sejak awal musim 2009 angka tersebut tidak memalukan, tapi juga tidak bisa dibanggakan. Angka tersebut dapat dijadikan sebagai sebuah ujian bagi tim dan juga bagi suporter. Pengetahuan saya tentang tim ini bisa dibilang cetek dan seadaanya, tapi saya masih ingat ketika awal musim 2009 tim ini masih dianggap sebagai tim kuda hitam biasa dan sama sekali tidak diperhitungkan sebagai tim papan atas. Setelah mengikuti selama empat musim, saya selalu jatuh cinta dengan gaya permainan mereka. Untuk musim ini saya tegaskan sebagai pengecualian, pada musim sebelumnya saya selalu jatuh cinta dengan cara mereka menyerang dan menyerang, tim apapun yang dihadapi mereka tidak menunjukan akan melakukan strategi “parkir bus” di depan gawang.

      Keunggulan tim ini jika saya perhatikan yaitu mereka unggul disektor sayap, walaupun tidak begitu banyak nama yang tenar tapi mereka selalu punya pemain sayap dengan kecepatan lari di atas rerata. Musim ini spurs kehilangan pemain hebat (apapun itu asalkan demi tim kami rela), seorang bintang yang awalnya pemain biasa saja. Yang menarik adalah bagaimana kreatifitas HR kala itu dengan mengubah posisi GB dari bek kiri menjadi pemain sayap murni. Tidak jarang ia mempertontonkan skill lari yang luar biasa dengan mencetak gol yang diawali dengan dribble dari 3/4 lapangan. Permainan GB matang ketika kursi HR digantikan oleh AVB. Namun sekali lagi tim ini ceroboh dalam kebijakan transfer dimana merombak hampir sebagian tim inti dengan pemain berlabel bintang dan harga (terlalu) mahal. Kondisi ini memaksa AVB (seolah-olah) menyusun permainan tim dari awal. Tidak ada yang salah dengan strategi AVB pada musim ini, yang salah adalah belum padunya antara pemain baru dan pemain lama. Dengan kata lain uang mengendalikan kebijakan transfer tim. Musim 2013/2014 permainan spurs bukan dihancurkan oleh AVB tapi dihancurkan oleh uang hasil penjualan GB.

      Jika kita amati maka ada kesamaan peran uang dalam buruknya performa spurs dengan kondisi politik kita. Spurs menganggap hanya dengan uang mereka bisa membangun sebuah tim yang bisa bersaing di Eropa, sedangkan politik kita ini mahal dengan adanya suara bayaran dimana dia yang bisa membeli suara terbanyak akan menang. Mari kita kembalikan politik menjadi perang gagasan dan inovasi bukan perang “wani piro”.

Semoga musim depan spurs akan mengembalikan kebijakan transfernya seperti dulu, hujatan pasti ada tapi itu adalah harga untuk sebuah pengembangan tim dan permainan yang dulu membuat saya jatuh cinta karenanya. Semoga indonesia pun demikian.

Sekian

NB : Posisi Spurs dibawah everton, tim yang masih menjaga kebijakan transfernya dari uang berlebih.

#TimSherwoodOut

Friday, April 4, 2014

Mendung – Cerah – Cerah – Mendung

       Cuaca bulan april ini sedang tidak tentu, sama halnya dengan pandangan orang tentang iklim politik di April 2014. Bulan ini memang tidak bisa jauh dari yang namanya politik. Siang tadi kondisi awan mendung, tapi tidak masalah lagipula jarang-jarang juga libur dari kegiatan PPL di hari jumat. Artinya sudah jarang pula saya jumatan di Attaqwa KPAD Bandung. Sedikit jauh tidak masalah, toh setelah sampai disana pun saya anggap setimpal karena saya kadung nyaman menyimak khotibnya. Oke, itu jumatan tapi sekali lagi ini April 2014 jadi yang disampaikan khotib pun tidak jauh-jauh dari politik. Efek April 2014 ini bisa mengubah siapa saja jadi pengamat politik musiman. Bahkan teman satu kosan pun yang biasanya berkutat dengan football manager, dengan dagangan aksesoris ponsel, dengan gunung dan tenda pun ikut beradu analisis setiap ada liputan mengenai kondisi iklim politik di April 2014.

          Kembali ke khotib, langsung pada inti pembicaraan yang (mampu) saya pahami dari dakwah beliau adalah jangan golput. Dengan tidak golput minimal kita bisa mengimbangi perolehan suara dari orang-orang yang mencalonkan diri menjadi wakil rakyat dengan modal suara bayaran. Kemudian dalam penyampaiannya beliau menganalogikan golput dengan sebuah narasi seperti berikut (anggap calon yang disediakan oleh penyelenggara ada lima):
“Misalnya kita akan pergi menghadiri sebuah acara syukuran,  ketika kita buka lemari hanya ada lima baju yang bersih sedangkan sisanya kotor. Dari lima baju ini tidak ada yang sempurna atau benar-benar baru dan masih bagus. Ada baju yang sudah kusam, ada yang jahitannya sedikit longgar, ada yang robek dibagian tertentu. Dalam keadaan ini kita diharuskan memilih salah satu, maka kita pasti pilih yang paling sedikit cacatnya menurut analisis dan pertimbangan masing-masing.”
          Menurut beliau ketika dihadapkan pada proses memilih pemimpin jika tidak ada yang sempurna maka pilihlah yang paling sedikit cacatnya tapi harus berdasarkan analisis dan pertimbangan. Ini menarik karena pilihan pada pemilu dianalogikan dengan baju yang hakikatnya selalu baik. Setiap baju dibuat dengan maksud baik yaitu untuk menutupi bagian tubuh dan membuat tubuh terasa nyaman terhadap suhu lingkungan. Dari sini maka asumsi awalnya adalah semua calon yang disediakan pada pemilu semuanya punya niatan baik. Tapi apa benar semua calon maju sebagai calon wakil rakyat dengan niatan baik dan benar-benar tidak ditumpangi kepentingan semacam balik modal atau sekedar bagi-bagi kue di senayan. Jika yang tersedia adalah orang tanpa moral, tanpa integritas tanpa pengetahuan maka pemilu ini mungkin versi saya tidak dianalogikan sebagai baju, tapi saya analogikan sebagai alat siksaan. Calon pertama efeknya patah tulang leher, calon kedua efeknya bikin luka bakar, calon lainnya ada yang efeknya Cuma lebam-lebam, bentol-bentol atau mungkin efeknya hanya gatal-gatal.

       Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan sudut pandang dan rasa percaya, jika anda termasuk yang percaya dan optimis pilihan yang ada menuju kebaikan maka silahkan pilih baju yang paling sesuai, yang paling nyaman dan yang paling cocok dengan gaya dan selera masing-masing. Tapi jika anda termasuk yang sangsi dan pesimis pilihan yang ada hanya itu-itu saja dan tidak ada yang spesial maka silahkan pilih efek yang siap anda terima atau mungkin anda lebih memililh kabur sebagai golongan putih. Sekali lagi sikap anda dapat mencerminkan rasa percaya anda terhadap masa depan negara ini. Entah mendung atau cerah nantinya. Dengan sistem yang ada saat ini maka kita lah yang menentukan cuaca negeri ini.

Sekian

NB : Berangkat jumatan mendung, pulang jumatan cerah.

Mari Produktif

Mari sejenak kita sisihkan problematika politik di 2014, karena ditahun yang sama Brazil menjanjikan suguhan penuh drama 4 tahunan. Ya benar, event piala dunia seolah hadir sebagai sajian intermezzo yang berkualitas di sela-sela pemilihan umum (pemilu) 2014. Pemilu dan piala dunia ini jika diperhatikan maka keduanya sama-sama penuh warna, sama-sama beradu strategi untuk menjatuhkan lawan secara sah atau sebaliknya.

Drama piala dunia selalu ditandai dengan adanya jabat tangan sarat persaingan dalam konteks beradu kemampuan, drama pemilu (mungkin) selalu ditandai dengan adanya jabat tangan penuh tanda tanya sekalipun dalam konteks koalisi. Dalam penyelenggaraan piala dunia, yang dibawa oleh juara bertahan adalah pengalaman dan nama baik, sementara yang dibawa oleh peserta lainnya adalah usaha dan harapan. Sementara dalam pemilu yang dibawa oleh juara bertahan bisa jadi adalah pandangan (buruk) masyarakat terhadap pengalaman yang telah ditorehkan sebelumnya. Sedangkan peserta lainnya sibuk berbenah diri dengan harapan masyarakat mau memberikan suaranya kepada mereka.

Dalam sepakbola ada istilah pemain bintang (jagoan), sekalipun satu tim mewakili satu negara namun bisa dipastikan jika orang yang negaranya tidak ikut berkompetisi pun dengan sukarela akan mendukung pemain bintang pujaan mereka. Itu salah satu daya magis yang dimiliki oleh pemain bintang. Ia dapat menggerakan seseorang yang berbeda negara, berbeda bahasa, berbeda agama untuk ikut mendukung mereka. Tanpa bayaran, tanpa paksaan. Murni karena mereka percaya sosok pemain bintang yang mereka dukung ini memiliki kemampuan, memiliki integritas dalam memimpin tim menuju kemenangan. Yang tidak dimiliki politik saat ini adalah hadirnya sosok politisi bintang yang mampu menggerakan, ingat bukan bekerja sendiri dan menjadi pelayan. Negara ini usianya masih cukup muda, tapi rakyat kita sudah bertindak layaknya seorang penguasa dengan melemparkan semua tanggunng jawab kepada pemerintahnya. Pemilu 2014 butuh politisi bintang yang mampu menggerakan rakyat untuk sama-sama memperbaiki dan menata kembali Indonesia.

Perjuangan  tapi ikut berperan dalam membenahi sistem. Menurut pandangan saya yang serampangan, sistem saat ini memiliki banyak sekali celah untuk disusupi niat-niat jahat. Ingatkah kita sejak kapan pembuatan KTP/SIM tidak disertai dengan pungli? Apakah pungli bersifat memaksa? Apakah kita mengiyakan pungli dengan alasan biar urusan lancar? Apakah dengan mengiyakan maka kita dapat menyalahkan pungliers?

Doa saya untuk Indonesia yaitu semoga pertanyaan yang tadi saya ajukan dapat dijawab dengan berakhirnya pemilu 2014. Kemudian tak lupa doa agar stasiun TV resmi piala dunia untuk Indonesia tidak memasukan konten-konten politik apalagi kampanye ketika menyiarkan piala dunia. Kan ga lucu kalo seragam Brazil ketika iklan tetiba ada logo-logo akarnya. Seragam Spanyol tetiba ada culanya. Seragam itali jadi ada lambang mercedes. Atau seragam jerman yang mendadak pemainnya bernomor punggung 3 semua.


JK, no offense. Saya bukan orang partai.

NB: Saya selalu suka tim Itali, tapi belgia sedang jadi kuda hitam andalan saya.
MEMUAT HALAMAN
(LOADING)