Hitam manis pahit
Sejatinya kopi itu pahit, semua tergantung
bagaimana kita mewarnai kopi. Dan saya termasuk yang tidak ingin mewarnai rasa
pahit kopi yang murni dengan aksesoris apapun. Hal yang kadang membuat saya
senyum-senyum sendiri itu terkadang adalah hal yang remeh, bukan urusan besar bagi
sebagian orang dan hal itu adalah kopi. Kopi pahit entah dari toraja atau
sumatera. Pertama, dari kopi saya belajar mengenai ironi. Saya katakan ironi
karena dalam setiap tegukan kopi pahit, saya dapat menemukan sebuah kenikmatan
yang khas. Bagaimana mungkin menemukan kenikmatan dari kepahitan, jelas mungkin
dan buktinya adalah kopi. Kedua, dari pahitnya kopi yang khas membuat saya bisa
merasakan kehadiran gula walaupun sedikit, ingatan kopi pahit yang membekas mampu
membedakan kopi dan gula sekalipun telah tercampur.
Perkenalan saya dan kopi belum genap satu tahun,
yang jelas setelah perkenalan itu lidah saya seperti seorang prajurit yang baru
saja naik derajat menjadi ksatria. Lidah saya menolak kopi kemasan. Tidak ada
lagi kenikmatan yang terasa dari kopi kemasan kecuali panasnya air yang cocok
sebagai penangkal angin malam. Sempat terlintas pikiran mengenai bagaimana
kalau nanti lambung saya tidak kuat dan semacamnya. Untungnya saya dapat info
mengenai kebiasaan kedai kopi di luar negeri yang selalu menghidangkan air
putih satu gelas kecil sebelum kopi dihidangkan. Hal ini dilakukan untuk
mengantisipasi jika lambung dalam keadaan kosong maka air putih akan mengisinya
terlebih dahulu sebelum kopi masuk. Saya cukup yakin dengan cara ini efek jahat
kopi terhadap lambung bisa diatasi. Kabar baik yang saya terima melalui pesan
singkat sore tadi yaitu tahun ini bandung menjadi salah satu kota yang
kedatangan Indonesian Barista Competition (IBC), ya IBC adalah ajang dimana
saya berharap bisa mencicipi kopi racikan tangan-tangan yang diakui oleh dunia.
Semoga tidak mahal.
NB : Saya masih bingung tentang aturan pileg dilaksanakan 9 April apakah sifatnya
baku diatur dalam UU atau mengikuti primbon.
No comments:
Post a Comment