Pages

Monday, April 7, 2014

IBC

Hitam manis pahit

Sejatinya kopi itu pahit, semua tergantung bagaimana kita mewarnai kopi. Dan saya termasuk yang tidak ingin mewarnai rasa pahit kopi yang murni dengan aksesoris apapun. Hal yang kadang membuat saya senyum-senyum sendiri itu terkadang adalah hal yang remeh, bukan urusan besar bagi sebagian orang dan hal itu adalah kopi. Kopi pahit entah dari toraja atau sumatera. Pertama, dari kopi saya belajar mengenai ironi. Saya katakan ironi karena dalam setiap tegukan kopi pahit, saya dapat menemukan sebuah kenikmatan yang khas. Bagaimana mungkin menemukan kenikmatan dari kepahitan, jelas mungkin dan buktinya adalah kopi. Kedua, dari pahitnya kopi yang khas membuat saya bisa merasakan kehadiran gula walaupun sedikit, ingatan kopi pahit yang membekas mampu membedakan kopi dan gula sekalipun telah tercampur.

Perkenalan saya dan kopi belum genap satu tahun, yang jelas setelah perkenalan itu lidah saya seperti seorang prajurit yang baru saja naik derajat menjadi ksatria. Lidah saya menolak kopi kemasan. Tidak ada lagi kenikmatan yang terasa dari kopi kemasan kecuali panasnya air yang cocok sebagai penangkal angin malam. Sempat terlintas pikiran mengenai bagaimana kalau nanti lambung saya tidak kuat dan semacamnya. Untungnya saya dapat info mengenai kebiasaan kedai kopi di luar negeri yang selalu menghidangkan air putih satu gelas kecil sebelum kopi dihidangkan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika lambung dalam keadaan kosong maka air putih akan mengisinya terlebih dahulu sebelum kopi masuk. Saya cukup yakin dengan cara ini efek jahat kopi terhadap lambung bisa diatasi. Kabar baik yang saya terima melalui pesan singkat sore tadi yaitu tahun ini bandung menjadi salah satu kota yang kedatangan Indonesian Barista Competition (IBC), ya IBC adalah ajang dimana saya berharap bisa mencicipi kopi racikan tangan-tangan yang diakui oleh dunia. Semoga tidak mahal.


NB : Saya masih bingung tentang aturan pileg dilaksanakan 9 April apakah sifatnya baku diatur dalam UU atau mengikuti primbon.

No comments:

Post a Comment

MEMUAT HALAMAN
(LOADING)