Pages

Friday, April 4, 2014

Mendung – Cerah – Cerah – Mendung

       Cuaca bulan april ini sedang tidak tentu, sama halnya dengan pandangan orang tentang iklim politik di April 2014. Bulan ini memang tidak bisa jauh dari yang namanya politik. Siang tadi kondisi awan mendung, tapi tidak masalah lagipula jarang-jarang juga libur dari kegiatan PPL di hari jumat. Artinya sudah jarang pula saya jumatan di Attaqwa KPAD Bandung. Sedikit jauh tidak masalah, toh setelah sampai disana pun saya anggap setimpal karena saya kadung nyaman menyimak khotibnya. Oke, itu jumatan tapi sekali lagi ini April 2014 jadi yang disampaikan khotib pun tidak jauh-jauh dari politik. Efek April 2014 ini bisa mengubah siapa saja jadi pengamat politik musiman. Bahkan teman satu kosan pun yang biasanya berkutat dengan football manager, dengan dagangan aksesoris ponsel, dengan gunung dan tenda pun ikut beradu analisis setiap ada liputan mengenai kondisi iklim politik di April 2014.

          Kembali ke khotib, langsung pada inti pembicaraan yang (mampu) saya pahami dari dakwah beliau adalah jangan golput. Dengan tidak golput minimal kita bisa mengimbangi perolehan suara dari orang-orang yang mencalonkan diri menjadi wakil rakyat dengan modal suara bayaran. Kemudian dalam penyampaiannya beliau menganalogikan golput dengan sebuah narasi seperti berikut (anggap calon yang disediakan oleh penyelenggara ada lima):
“Misalnya kita akan pergi menghadiri sebuah acara syukuran,  ketika kita buka lemari hanya ada lima baju yang bersih sedangkan sisanya kotor. Dari lima baju ini tidak ada yang sempurna atau benar-benar baru dan masih bagus. Ada baju yang sudah kusam, ada yang jahitannya sedikit longgar, ada yang robek dibagian tertentu. Dalam keadaan ini kita diharuskan memilih salah satu, maka kita pasti pilih yang paling sedikit cacatnya menurut analisis dan pertimbangan masing-masing.”
          Menurut beliau ketika dihadapkan pada proses memilih pemimpin jika tidak ada yang sempurna maka pilihlah yang paling sedikit cacatnya tapi harus berdasarkan analisis dan pertimbangan. Ini menarik karena pilihan pada pemilu dianalogikan dengan baju yang hakikatnya selalu baik. Setiap baju dibuat dengan maksud baik yaitu untuk menutupi bagian tubuh dan membuat tubuh terasa nyaman terhadap suhu lingkungan. Dari sini maka asumsi awalnya adalah semua calon yang disediakan pada pemilu semuanya punya niatan baik. Tapi apa benar semua calon maju sebagai calon wakil rakyat dengan niatan baik dan benar-benar tidak ditumpangi kepentingan semacam balik modal atau sekedar bagi-bagi kue di senayan. Jika yang tersedia adalah orang tanpa moral, tanpa integritas tanpa pengetahuan maka pemilu ini mungkin versi saya tidak dianalogikan sebagai baju, tapi saya analogikan sebagai alat siksaan. Calon pertama efeknya patah tulang leher, calon kedua efeknya bikin luka bakar, calon lainnya ada yang efeknya Cuma lebam-lebam, bentol-bentol atau mungkin efeknya hanya gatal-gatal.

       Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan sudut pandang dan rasa percaya, jika anda termasuk yang percaya dan optimis pilihan yang ada menuju kebaikan maka silahkan pilih baju yang paling sesuai, yang paling nyaman dan yang paling cocok dengan gaya dan selera masing-masing. Tapi jika anda termasuk yang sangsi dan pesimis pilihan yang ada hanya itu-itu saja dan tidak ada yang spesial maka silahkan pilih efek yang siap anda terima atau mungkin anda lebih memililh kabur sebagai golongan putih. Sekali lagi sikap anda dapat mencerminkan rasa percaya anda terhadap masa depan negara ini. Entah mendung atau cerah nantinya. Dengan sistem yang ada saat ini maka kita lah yang menentukan cuaca negeri ini.

Sekian

NB : Berangkat jumatan mendung, pulang jumatan cerah.

No comments:

Post a Comment

MEMUAT HALAMAN
(LOADING)