Pages

Friday, April 4, 2014

Mari Produktif

Mari sejenak kita sisihkan problematika politik di 2014, karena ditahun yang sama Brazil menjanjikan suguhan penuh drama 4 tahunan. Ya benar, event piala dunia seolah hadir sebagai sajian intermezzo yang berkualitas di sela-sela pemilihan umum (pemilu) 2014. Pemilu dan piala dunia ini jika diperhatikan maka keduanya sama-sama penuh warna, sama-sama beradu strategi untuk menjatuhkan lawan secara sah atau sebaliknya.

Drama piala dunia selalu ditandai dengan adanya jabat tangan sarat persaingan dalam konteks beradu kemampuan, drama pemilu (mungkin) selalu ditandai dengan adanya jabat tangan penuh tanda tanya sekalipun dalam konteks koalisi. Dalam penyelenggaraan piala dunia, yang dibawa oleh juara bertahan adalah pengalaman dan nama baik, sementara yang dibawa oleh peserta lainnya adalah usaha dan harapan. Sementara dalam pemilu yang dibawa oleh juara bertahan bisa jadi adalah pandangan (buruk) masyarakat terhadap pengalaman yang telah ditorehkan sebelumnya. Sedangkan peserta lainnya sibuk berbenah diri dengan harapan masyarakat mau memberikan suaranya kepada mereka.

Dalam sepakbola ada istilah pemain bintang (jagoan), sekalipun satu tim mewakili satu negara namun bisa dipastikan jika orang yang negaranya tidak ikut berkompetisi pun dengan sukarela akan mendukung pemain bintang pujaan mereka. Itu salah satu daya magis yang dimiliki oleh pemain bintang. Ia dapat menggerakan seseorang yang berbeda negara, berbeda bahasa, berbeda agama untuk ikut mendukung mereka. Tanpa bayaran, tanpa paksaan. Murni karena mereka percaya sosok pemain bintang yang mereka dukung ini memiliki kemampuan, memiliki integritas dalam memimpin tim menuju kemenangan. Yang tidak dimiliki politik saat ini adalah hadirnya sosok politisi bintang yang mampu menggerakan, ingat bukan bekerja sendiri dan menjadi pelayan. Negara ini usianya masih cukup muda, tapi rakyat kita sudah bertindak layaknya seorang penguasa dengan melemparkan semua tanggunng jawab kepada pemerintahnya. Pemilu 2014 butuh politisi bintang yang mampu menggerakan rakyat untuk sama-sama memperbaiki dan menata kembali Indonesia.

Perjuangan  tapi ikut berperan dalam membenahi sistem. Menurut pandangan saya yang serampangan, sistem saat ini memiliki banyak sekali celah untuk disusupi niat-niat jahat. Ingatkah kita sejak kapan pembuatan KTP/SIM tidak disertai dengan pungli? Apakah pungli bersifat memaksa? Apakah kita mengiyakan pungli dengan alasan biar urusan lancar? Apakah dengan mengiyakan maka kita dapat menyalahkan pungliers?

Doa saya untuk Indonesia yaitu semoga pertanyaan yang tadi saya ajukan dapat dijawab dengan berakhirnya pemilu 2014. Kemudian tak lupa doa agar stasiun TV resmi piala dunia untuk Indonesia tidak memasukan konten-konten politik apalagi kampanye ketika menyiarkan piala dunia. Kan ga lucu kalo seragam Brazil ketika iklan tetiba ada logo-logo akarnya. Seragam Spanyol tetiba ada culanya. Seragam itali jadi ada lambang mercedes. Atau seragam jerman yang mendadak pemainnya bernomor punggung 3 semua.


JK, no offense. Saya bukan orang partai.

NB: Saya selalu suka tim Itali, tapi belgia sedang jadi kuda hitam andalan saya.

No comments:

Post a Comment

MEMUAT HALAMAN
(LOADING)