Mari sejenak kita sisihkan problematika politik di
2014, karena ditahun yang sama Brazil menjanjikan suguhan penuh drama 4
tahunan. Ya benar, event piala dunia seolah hadir sebagai sajian intermezzo
yang berkualitas di sela-sela pemilihan umum (pemilu) 2014. Pemilu dan piala
dunia ini jika diperhatikan maka keduanya sama-sama penuh warna, sama-sama
beradu strategi untuk menjatuhkan lawan secara sah atau sebaliknya.
Drama piala dunia selalu ditandai dengan adanya
jabat tangan sarat persaingan dalam konteks beradu kemampuan, drama pemilu (mungkin)
selalu ditandai dengan adanya jabat tangan penuh tanda tanya sekalipun dalam
konteks koalisi. Dalam penyelenggaraan piala dunia, yang dibawa oleh juara
bertahan adalah pengalaman dan nama baik, sementara yang dibawa oleh peserta
lainnya adalah usaha dan harapan. Sementara dalam pemilu yang dibawa oleh juara
bertahan bisa jadi adalah pandangan (buruk) masyarakat terhadap pengalaman yang
telah ditorehkan sebelumnya. Sedangkan peserta lainnya sibuk berbenah diri
dengan harapan masyarakat mau memberikan suaranya kepada mereka.
Dalam sepakbola ada istilah pemain bintang
(jagoan), sekalipun satu tim mewakili satu negara namun bisa dipastikan jika
orang yang negaranya tidak ikut berkompetisi pun dengan sukarela akan mendukung
pemain bintang pujaan mereka. Itu salah satu daya magis yang dimiliki oleh
pemain bintang. Ia dapat menggerakan seseorang yang berbeda negara, berbeda
bahasa, berbeda agama untuk ikut mendukung mereka. Tanpa bayaran, tanpa
paksaan. Murni karena mereka percaya sosok pemain bintang yang mereka dukung
ini memiliki kemampuan, memiliki integritas dalam memimpin tim menuju
kemenangan. Yang tidak dimiliki politik saat ini adalah hadirnya sosok politisi
bintang yang mampu menggerakan, ingat bukan bekerja sendiri dan menjadi
pelayan. Negara ini usianya masih cukup muda, tapi rakyat kita sudah bertindak layaknya seorang penguasa dengan melemparkan semua tanggunng jawab kepada pemerintahnya.
Pemilu 2014 butuh politisi bintang yang mampu menggerakan rakyat untuk
sama-sama memperbaiki dan menata kembali Indonesia.
Perjuangan tapi ikut berperan dalam membenahi sistem. Menurut
pandangan saya yang serampangan, sistem saat ini memiliki banyak sekali celah
untuk disusupi niat-niat jahat. Ingatkah kita sejak kapan pembuatan KTP/SIM
tidak disertai dengan pungli? Apakah pungli bersifat memaksa? Apakah kita
mengiyakan pungli dengan alasan biar urusan lancar? Apakah dengan mengiyakan
maka kita dapat menyalahkan pungliers?
Doa saya untuk Indonesia yaitu semoga pertanyaan
yang tadi saya ajukan dapat dijawab dengan berakhirnya pemilu 2014. Kemudian tak
lupa doa agar stasiun TV resmi piala dunia untuk Indonesia tidak memasukan
konten-konten politik apalagi kampanye ketika menyiarkan piala dunia. Kan ga
lucu kalo seragam Brazil ketika iklan tetiba ada logo-logo akarnya. Seragam
Spanyol tetiba ada culanya. Seragam itali jadi ada lambang mercedes. Atau seragam
jerman yang mendadak pemainnya bernomor punggung 3 semua.
JK, no offense. Saya bukan orang partai.
NB: Saya selalu suka tim Itali, tapi belgia sedang jadi kuda hitam andalan saya.
No comments:
Post a Comment