Tulisan ini saya buat dengan
serampangan dan hanya didukung oleh opini pribadi
5 – 0
5 – 1
6 – 0
3 – 0
Jangan berpikir aneh
dulu, angka-angka tersebut bukan indeks pacuan kuda. Jika kalian mengikuti
perkembangan liga inggris musim 2013/2014 angka tersebut adalah skor akhir
pertandingan antara spurs melawan tim-tim besar di liga inggris (tim besar yang
menang). Menyedihkan memang, mengecewakan jelas iya tapi jika ditanya itu
adalah angka yang memalukan maka bagi saya yang jadi fans sejak awal musim 2009
angka tersebut tidak memalukan, tapi juga tidak bisa dibanggakan. Angka
tersebut dapat dijadikan sebagai sebuah ujian bagi tim dan juga bagi suporter. Pengetahuan
saya tentang tim ini bisa dibilang cetek dan seadaanya, tapi saya masih ingat
ketika awal musim 2009 tim ini masih dianggap sebagai tim kuda hitam biasa dan sama
sekali tidak diperhitungkan sebagai tim papan atas. Setelah mengikuti selama
empat musim, saya selalu jatuh cinta dengan gaya permainan mereka. Untuk musim
ini saya tegaskan sebagai pengecualian, pada musim sebelumnya saya selalu jatuh
cinta dengan cara mereka menyerang dan menyerang, tim apapun yang dihadapi
mereka tidak menunjukan akan melakukan strategi “parkir bus” di depan gawang.
Keunggulan tim ini
jika saya perhatikan yaitu mereka unggul disektor sayap, walaupun tidak begitu
banyak nama yang tenar tapi mereka selalu punya pemain sayap dengan kecepatan
lari di atas rerata. Musim ini spurs kehilangan pemain hebat (apapun itu
asalkan demi tim kami rela), seorang bintang yang awalnya pemain biasa saja.
Yang menarik adalah bagaimana kreatifitas HR kala itu dengan mengubah posisi GB
dari bek kiri menjadi pemain sayap murni. Tidak jarang ia mempertontonkan skill
lari yang luar biasa dengan mencetak gol yang diawali dengan dribble dari 3/4
lapangan. Permainan GB matang ketika kursi HR digantikan oleh AVB. Namun sekali
lagi tim ini ceroboh dalam kebijakan transfer dimana merombak hampir sebagian
tim inti dengan pemain berlabel bintang dan harga (terlalu) mahal. Kondisi ini
memaksa AVB (seolah-olah) menyusun permainan tim dari awal. Tidak ada yang
salah dengan strategi AVB pada musim ini, yang salah adalah belum padunya antara
pemain baru dan pemain lama. Dengan kata lain uang mengendalikan kebijakan
transfer tim. Musim 2013/2014 permainan spurs bukan dihancurkan oleh AVB tapi
dihancurkan oleh uang hasil penjualan GB.
Jika kita amati maka
ada kesamaan peran uang dalam buruknya performa spurs dengan kondisi politik
kita. Spurs menganggap hanya dengan uang mereka bisa membangun sebuah tim yang
bisa bersaing di Eropa, sedangkan politik kita ini mahal dengan adanya suara
bayaran dimana dia yang bisa membeli suara terbanyak akan menang. Mari kita
kembalikan politik menjadi perang gagasan dan inovasi bukan perang “wani piro”.
Semoga musim depan spurs akan mengembalikan
kebijakan transfernya seperti dulu, hujatan pasti ada tapi itu adalah harga
untuk sebuah pengembangan tim dan permainan yang dulu membuat saya jatuh cinta
karenanya. Semoga indonesia pun demikian.
Sekian
NB : Posisi Spurs dibawah everton, tim yang masih menjaga kebijakan
transfernya dari uang berlebih.
No comments:
Post a Comment