Pages

Saturday, April 5, 2014

Sherwood Out

Tulisan ini saya buat dengan serampangan dan hanya didukung oleh opini pribadi

5 – 0

5 – 1

6 – 0

3 – 0
        Jangan berpikir aneh dulu, angka-angka tersebut bukan indeks pacuan kuda. Jika kalian mengikuti perkembangan liga inggris musim 2013/2014 angka tersebut adalah skor akhir pertandingan antara spurs melawan tim-tim besar di liga inggris (tim besar yang menang). Menyedihkan memang, mengecewakan jelas iya tapi jika ditanya itu adalah angka yang memalukan maka bagi saya yang jadi fans sejak awal musim 2009 angka tersebut tidak memalukan, tapi juga tidak bisa dibanggakan. Angka tersebut dapat dijadikan sebagai sebuah ujian bagi tim dan juga bagi suporter. Pengetahuan saya tentang tim ini bisa dibilang cetek dan seadaanya, tapi saya masih ingat ketika awal musim 2009 tim ini masih dianggap sebagai tim kuda hitam biasa dan sama sekali tidak diperhitungkan sebagai tim papan atas. Setelah mengikuti selama empat musim, saya selalu jatuh cinta dengan gaya permainan mereka. Untuk musim ini saya tegaskan sebagai pengecualian, pada musim sebelumnya saya selalu jatuh cinta dengan cara mereka menyerang dan menyerang, tim apapun yang dihadapi mereka tidak menunjukan akan melakukan strategi “parkir bus” di depan gawang.

      Keunggulan tim ini jika saya perhatikan yaitu mereka unggul disektor sayap, walaupun tidak begitu banyak nama yang tenar tapi mereka selalu punya pemain sayap dengan kecepatan lari di atas rerata. Musim ini spurs kehilangan pemain hebat (apapun itu asalkan demi tim kami rela), seorang bintang yang awalnya pemain biasa saja. Yang menarik adalah bagaimana kreatifitas HR kala itu dengan mengubah posisi GB dari bek kiri menjadi pemain sayap murni. Tidak jarang ia mempertontonkan skill lari yang luar biasa dengan mencetak gol yang diawali dengan dribble dari 3/4 lapangan. Permainan GB matang ketika kursi HR digantikan oleh AVB. Namun sekali lagi tim ini ceroboh dalam kebijakan transfer dimana merombak hampir sebagian tim inti dengan pemain berlabel bintang dan harga (terlalu) mahal. Kondisi ini memaksa AVB (seolah-olah) menyusun permainan tim dari awal. Tidak ada yang salah dengan strategi AVB pada musim ini, yang salah adalah belum padunya antara pemain baru dan pemain lama. Dengan kata lain uang mengendalikan kebijakan transfer tim. Musim 2013/2014 permainan spurs bukan dihancurkan oleh AVB tapi dihancurkan oleh uang hasil penjualan GB.

      Jika kita amati maka ada kesamaan peran uang dalam buruknya performa spurs dengan kondisi politik kita. Spurs menganggap hanya dengan uang mereka bisa membangun sebuah tim yang bisa bersaing di Eropa, sedangkan politik kita ini mahal dengan adanya suara bayaran dimana dia yang bisa membeli suara terbanyak akan menang. Mari kita kembalikan politik menjadi perang gagasan dan inovasi bukan perang “wani piro”.

Semoga musim depan spurs akan mengembalikan kebijakan transfernya seperti dulu, hujatan pasti ada tapi itu adalah harga untuk sebuah pengembangan tim dan permainan yang dulu membuat saya jatuh cinta karenanya. Semoga indonesia pun demikian.

Sekian

NB : Posisi Spurs dibawah everton, tim yang masih menjaga kebijakan transfernya dari uang berlebih.

#TimSherwoodOut

No comments:

Post a Comment

MEMUAT HALAMAN
(LOADING)