Pages

Monday, November 24, 2014

Bertemu Bolang




It's Bolang! He's Fckin real man!!!!!!!! Oh iya bolang mah dari dulu juga nyata yang ga nyata mah unyil, maaf.

         Saya sudah 5 tahun tinggal di kota bandung, dimulai tahun 2010. Ya, tahun 2010 bertepatan dengan pasar seni ITB tapi berhubung saat itu saya tidak beda jauh dengan “Kabayan saba kota” jadi ya sudah acara itu lewat begitu saja. Tapi sekarang setelah 4 tahun berselang acara tersebut kembali diadakan dan saya pun berkesempatan untuk datang dan lumayan menikmati walaupun efeknya lumayan buat kaki.
      Saya akui animo masyarakat terhadap acara ini begitu luar biasa. Mengapa saya dapat berpendapat demikian, pertama karena rute angkot yang saya tumpangi hanya bisa sampai Jl. Siliwangi karena macet. Kedua, Sholat dhuhur di mesjid salman saja harus mengantri, belum lagi ada yang namanya joki tuang. Joki tuang hadir di tengah-tengah keramaian sebagai solusi praktis karena mau wudhu pun ngantri jadi bagi mereka yang tergesa dapat menggunakan air bersih dalam kemasan botol air mineral dan tentunya dengan bantuan joki tuang.
          Terima kasih joki tuang.
 
       Ketiga dalam acara tersebut terdapat beberapa galeri seni yang bisa dikunjungi tapi dengan animo masyarakat yang luar biasa maka tiap galeri pun selalu dihiasi oleh antrian yang tidak hanya panjang dan padat tapi sampai mengitari gedung lokasi tiap galeri. Untuk tahun ini saya tidak berkesempatan untuk mengunjungi satu pun galeri seni tersebut karena apa lagi kalau bukan malas mengantri. Bukan karena saya tidak taat antrian hanya saja saya lebih baik tidak ikut mengantri jika antriannya padat sesak seperti itu ini modusnya. Alasan sebenarnya antrian yang padat sesak itu rawan sekuhara, pada beberapa kasus sekuhara yang melibatkan pelaku yang lihai biasanya tertuduh pertama adalah orang dengan senyuman mesum, dan saya termasuk orang yang memiliki peluang tinggi sebagai tertuduh walaupun tidak melakukan apa pun kalau niat mungkin ada.
Katanya si tentang menunjukan sikap individualis seseorang ditengah kerumunan orang

Awalnya saya kira ini serpihan megatron sebelum dia jadi galvatron

       Nah hal menarik yang saya rasakan dalam event tersebut adalah fakta bahwa saya dengan mudah menerima seni instalasi yang disajikan disana seperti tangan robot dan orang autis dalam kerangka berbentuk bola atau T-rex dari seng berkarat. Pertama melihat pun yang langsung terpikir oleh saya adalah berapa lama, berapa banyak kru dan berapa biaya yang dihabiskan oleh panitia acara untuk membuat benda tersebut dan hal itu lah yang mengharuskan saya untuk memberikan apresiasi.
        Sayangnya ada saja pengujung yang tidak menghargai usaha si pembuat yang justru menjadikan salah satu kriya bambu yang dipajang untuk umum sabagai tempat sampah. Saya selalu meyakini bahwa mereka ini golongan orang yang sok bersih tapi dangkal no offense. Hal yang membuat saya sedikit malas dengan acara tersebut bukan karena perilaku panitia melainkan perilaku pengunjung lainnya terkait sampah. Mental sebagian orang masih berpendapat bahwa buang saja sampahnya toh ada tukang sampah yang membersihkan, apa yang membedakan perilaku demikian yang menganggap bahwa boker saja di teras rumah orang nanti juga dibersihkan yang punya rumah. Ditambah saya menemukan beberapa kantung plastik sampah yang belum terisi penuh tapi pengunjung malah membuang sampah sembarangan. Sepertinya 200 tahun pun akan tetap demikian sebelum ada kejadian luar biasa mengenai sampah.
Apapun alasannya hal seperti ini pasti menyakiti hati si pembuat

Si Kampret doyan juga jajan beginian sampe ludes, tapi kok ya males buang sampah di kantong sampah padahal ada tepat di sebelahnya

      Tapi memang benar kata beberapa teman tentang kemampuan saya dalam mengambl hikmah atau manfaat dalam setiap kemalangan misal ketika menjemur pakaian di kosan saya termasuk yang selalu telet mencuci sehingga selalu kebagian bagian barat jemuran yang jarang terkena sinar matahari dan teman saya pun pasti langsung mengata-ngatai bahwa pakaian saya akan kering paling akhir. Tenang, ini bukan masalah karena ini adalah keuntungan seandainya matahari pagi terbit dari barat maka tentu pakaian saya yang kering duluan shame on you lad!. Sama halnya dengan kejadian sampah ini justru saya syukuri karena orang masih membuang sampah sembarangan di muka umum sehingga situasi masih aman dan tidak terjadi kerusuhan atau minimal tidak terjadi pertengkaran, bayangkan kalau orang mulai muak buang sampah sembarangan dan mulai membuang sampah dimuka orang.
         Berikut beberapa gambar yag saya ambil ketika berada di event pasar seni.
Ini kayanya si anjing tapi berhubung ini ada di galeri yang udah terkenal jadi saya ga berani mengatai lebih lanjut.

Liat yang beginian jadi inget masa-masa bikin tandu pramuka buat ngangkut orang yang pingsan pas upacara bendera

Awalnya saya kira dari kardus eh ga taunya dari seng berkarat, kebayang kalo ini t-rex hidup sekali gigit orang langsung kena tetanus.

Ini salah satu dekorasi acaranya

Kalau yang ini murni akibat kemacetan sepanjang jalan gelap nyawang, nah terus pekerja galian kabel yang terganggun pekerjaannya akibat macet memutuskan untuk melampiaskan jiwa seninya pada tanah liat galian kabel, cukup menginspirasi.

Kalau yang ini entah maksudnya apa
 

2 comments:

MEMUAT HALAMAN
(LOADING)